Topik Utama Hari Ini
Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan
Ternyata Nabi Muhammad Tidak Buta Huruf
Memaknai ke "Ummi" an Nabi MuhammadKata “ummi”, menurut Alquran adalah orang-orang yang tidak, atau belum diberi satupun Kitab oleh Allah. Kaum Yahudi telah diberi tiga buah kitab melalui beberapa orang nabi mereka. Karenanya, mereka di sebut ahli kitab. Sedangkan orang-orang Arab, belum diberi satupun kitab sebelum Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad yang orang Arab. Hal ini dijelaskan-Nya dalam Firman-Nya: “Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi kitab, dan orang-orang “ummi” (yang tidak diberi kitab), sudahkah kamu tunduk patuh?” (Qs Ali Imran: 20).
Berdasarkan ayat di atas, kata “ummi” itu tidak bermakna buta huruf. Alquran malah membantah keras jika kata "ummi" diartikan sebagai kebutahurufan Nabi Muhammad. Banyak ayat di dalam Alquran yang memerintahkan Nabi supaya membaca ayat-ayat-Nya kepada orang-orang yang berada di sekelilingnya. Hal ini menunjukkan nabi pandai membaca.
Contoh ayat dimaksud antara lain; “Katakanlah (Muhammad), ‘Marilah, aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu….” (QS 6:151). Atau, “Demikianlah Kami mengutus kamu (Muhammad) kepada satu umat yang sebelumnya beberapa umat telah berlalu, agar engkau bacakan kepada mereka (Alquran) yang Kami wahyukan kepadamu.…” (QS 13:30). Atau, : “Dia yang mengutus kepada kaum yang ummi (orang Arab) seorang rasul (Muhammad) di kalangan mereka untuk membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,” (QS 62:2). Baca juga dalam QS 5:27, QS 17:106, 27:91-92, QS 33:33-34, QS 39:71.
Sulit menerima hakikat bahwa seorang Nabi pilihan-Nya tidak tahu membaca padahal ayat yang diturunkan pertama kali adalah perintah membaca, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS 96:1). Ayat Alquran yang pertama sudah menyiratkan bahwa bahwa Nabi Muhammad tidak buta huruf. Sebab, sebuah kesia-siaan saja bila Allah menyapa Nabi Muhammad dengan perintah untuk membaca (kalau beliau dianggap buta-huruf). Karenanya, bagi Syekh Al-Maqdisi, penulis buku Nabi Muhammad, Buta Huruf atau Genius? (Mengungkap Misteri “Keummian” Rasulullah) jawabannya jelas: Ada tafsir sejarah yang keliru terhadap kapasitas Rasulullah, khususnya dalam soal baca-tulis. Dan semua itu, bersumber dari kekeliruan kita dalam menerjamahkan kata “ummi” dalam Alquran maupun Hadis, yang oleh sebagian besar umat Islam diartikan “buta huruf”.
Menurut Al-Maqdisi, “ummi” memang bisa berarti “buta huruf”, tapi ketika menyangkut Nabi Muhammad, “ummi” di situ lebih berarti orang yang bukan dari golongan Yahudi dan Nasrani. Pada masa itu, kaum Yahudi dan Nasrani sering kali menyebut umat di luar dirinya sebagai orang-orang “ummi” atau “non-Yahudi dan non-Nasrani”, atau orang-orang yang tidak diberi kitab. Termasuk Rasulullah dan orang Arab lainnya.
Alquran tidak hanya menjelaskan nabi pandai membaca, tetapi pandai menulis. Dalam Alquran dijelaskan orang-orang kafir menuduh Rasul menulis dongeng-dongeng orang terdahulu dan disebutnya firman-firman Tuhan: “Dan mereka berkata, “(Itu hanya) dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.” (QS Al-Furqan : 5).
Dan terakhir, terdapat sebuah ayat lagi yang insya Allah dapat menepis sama sekali keraguan terhadap Nabi yang dikatakan tidak pandai membaca dan menulis. Firman-Nya: “Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca suatu kitab sebelum (Alquran) dan engkau tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu, sekiranya engkau pernah membaca dan menulis niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya.” (QS Al-Ankabut : 48).
Ayat ini menegaskan, Nabi tidak pernah membaca dan menulis satupun Kitab sebelum menerima Alquran. Maksudnya, setelah menerima Alquran, Rasul membaca dan menulis Kitab dengan tangan kanannya. Ayat ini pun menunjukkan, dengan tidak pernahnya Rasullullah membaca atau menulis satu kitab pun semisal Alquran, bukan berarti Rasulullah tidak tahu membaca dan menulis. Misalnya membaca dan menulis dalam urusan perdagangannya. Nabi adalah seorang pedagang yang terkenal. Dan para ahli sejarah sepakat, pada zaman Nabi tidak menggunakan angka-angka; huruf huruf abjad telah digunakan sebagai angka-angka. Sebagai seorang pedagang yang berurusan dengan nomor-nomor atau angka-angka setiap hari, Nabi tentunya tahu tentang abjad, dari satu sampai keseribu. Karenanya, tidak ada dalih yang kuat apalagi untuk mempertahankan pendapat Nabi Muhammad buta huruf.
Dr Muhammad Syahrur, Penulis Al-Kitab wal Quran tidak mau menerima cerita tentang buta hurufnya Nabi. Karenanya ia mengatakan, “Nabi memang ummi, tetapi beliau mampu membaca dan menulis.” Kalau keraguan masih ada, izinkan saya meminta untuk kembali membaca, surat pertama Tuhan kepada kekasih-Nya, “Bacalah (Muhammad) dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan….!” Wallahu ‘alam. *
Dikutip dari tulisan Ismail Amin, Mahasiswa Institute for Language and Islamic Studies, Republik Islam Iran. Pernah dimuat di Harian Fajar http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=45001
Adam Bukanlah Manusia Pertama
Memposisikan kata "basyar" dan "insan"
Adam dipastikan sebagai Nabi Pertama dalam sejarah kenabian, tetapi ia bukan manusia pertama dalam sejarah kemanusiaan. Kenyataan ini dapat dilihat dalam indikasi Alquran ketika kata "basyar" dan "insan" yang secara bahasa sama-sama diartikan "manusia", tetapi penggunaan antara keduanya memiliki arti yang berbeda. Kata "basyar" lebih merujuk kepada arti manusia secara umum, manusia bilologis, tetapi kata "insan" lebih merujuk kepada arti manusia secara khusus, yaitu manusia berbudaya dan berperadaban. Sehingga, setiap "insan" adalah "basyar", tetapi tidak setiap "basyar" itu "insan. "Basyar" memiliki bentuk yang statis (jamidah), sementara "insan" adalah kata yang dinamis (mutasharrifah).
Dalam Alquran, kata "insan" tidak digunakan kecuali pada manusia yang mendapatkan tanggungjawab tauhid dan ibadah, dalam hal ini dimulai dengan keberadaan Adam. Beban agama yang diberikan kepada Adam sebagai Nabi adalah karena sifat ke-insaniah-annya, bukan ke-basyariah-annya. Maka, kemunculan Adam adalah simbol kemunculan pertama bagi "insan", dan tidak berkaitan dengan "basyar". Dalam konteks ini, Adam merupakan bapaknya manusia, "abu al-insan", bukan "abu al-basyar", dan tidak ada hubungan antara Adam dan basyar yang muncul terlebih dahulu. Wallahu a'lam.
Ternyata Tuhan "Cemburu"
Tidak hanya manusia yang bisa cemburu, tetapi Tuhan juga bisa cemburu. Kalaulah manusia cemburu karena tidak mau diduakan, maka Tuhan lebih-lebih lagi bahwa Ia pun tidak ”ridha” untuk diduakan. Hati siapa yang terima kalau sang istri diduakan oleh sang suami, dan suami mana yang mau terima kalau sang istri membagi kasih? Tuhan adalah pencemburu berat. Bagi Tuhan, keberadaanNya adalah satu-satuNya (the one and only), tidak ada orang lain yang mendampinginNya apalagi dijadikan sebagai saingan (rival) Nya (QS. Al-Ikhlas:1). Tuhanlah satu-satunya subyek yang disembah dan Tuhanlah satu-satunya subyek yang dimintai pertolongan (QS. Alfatihah:5). Dimata Tuhan, manusia yang berupaya menduakanNya akan membuat kemarahan besar Tuhan. Dosa besar bagi manusia yang menduakanNya, dan Tuhan berjanji tidak akan pernah mengampuni kesalahannya (QS. An-Nisa:48,116).Cemburu berarti ”refleksi dari kemurnian cinta”. Kalaulah ada orang yang cemburu, itu berarti bahwa ia teramat cinta kepadanya. Oleh karena itu, puncak dari upaya untuk memurnikan kesatu-satuan (keesaan) Tuhan adalah cinta. ”Cinta Tuhan”, demikianlah istilah Rabi’ah Al-Adawiyah menyebutnya. Sufi wanita pertama yang muncul abad ke 2 H ini pernah memberikan resep cintanya dengan mengatakan: ”aku mencintai Tuhan dengan dua bentuk cinta, yang satu karena cinta nafsu, dan kedua cinta karena Tuhan memang patut dicinta”. Ekspresi cintanya kepada Tuhan terukir lewat dendang bait syairnya: ”Kalaulah aku mengabdi kepadaMu, bukanlah karena aku takut nerakaMu, dan bukan pula karena menginginkan sorgaMu, karena itu hanya membuatku seorang pelancong. Tapi kusembah Dikau karena kemurnian cinta dan rinduku padaMu”. Wallahu a’lam.
“ILA NAFSI……” BUKAN “ILA RUHI ….”
Dalam penggunaan Alquran, kata ruh tidak pernah berkaitan dengan kata maut atau wafat yang berarti ”kematian” atau ”kesempurnaan”. Tetapi yang dikaitkan dengan kematian adalah kata nafs (seperti kalimat kullu nafs dzaiqatul maut). Ungkapan ini menunjukkan, bahwa yang mati itu adalah nafs dan bukan ruh. Klik "komentar" untuk memberi tanggapan atau "read more" untuk melihat selengkpnyaBagi manusia, ruh dan nafs merupakan dua istilah yang berdekatan namun memiliki kandungan makna yang berbeda. Ruh tidak pernah mati karena ia bersumber langsung dari Tuhan (wanafakaha min ruhi). Ia ibarat cahaya yang bersumber dari Matahari. Maka, sepanjang matahari itu ada, sepanjang itu pula cahaya itu tetap ada.
Kalaulah cahaya itu tidak ada, bukan berarti bahwa mataharinya yang tidak ada, tetapi cahaya yang tidak menembus kedalaman penglihatan manusia karena penghalang. Dalam keadaan ini, maka nafs berfungsi menangkap keberadaan cahaya. Bagi manusia pula, nafs merupakan unsur berkesadaran. Orang yang kehilangan nafs berarti kehilangan kesadaran, dan ketika itu manusia dapat dikatakan telah mengalami kematian. Jadi, mati sesungguhnya adalah hilangnya nafs. Dalam konteks ini, maka tradisi mengirim bacaan sebagai doa bagi orang yang telah meninggal dunia bukan diungkap dengan persembahan kata: ”ila ruhi fulan bin bulan” dan ”ruhi fulan bin bulan”, tetapi ”ila nafsi fulan bin fulan”. Wallahu a’lam
AZAR BUKANLAH BAPAK NABI IBRAHIM
Perbedaan Semantik Kata "Abu" dan "Walid"Tahukah anda bahwa Azar yang disebut-sebut dalam Alquran (Q.S.Al-An’am:74) sebagai bapak Nabi Ibrahim ternyata bukanlah bapak yang sebenarnya? Kebanyakan orang selama ini mungkin telah ”keburu” berpendapat bahwa berdasarkan petunjuk tekstual ayat tersebut, Azar lah bapaknya, namun semua itu keliru. Lantas, siapa nama bapak Nabi Ibrahim yang sebenarnya? Klik ”read more” untuk tahu jawabannya, dan klik ”komentar” untuk memberikan tanggapan dan pertanyaan...
Azar yang disebut dalam Alquran sebagai ”abun (arab:bapak) memang benar diartikan sebagai bapak, tapi bukanlah bapak kandung dalam arti yang melahirkan. Dalam etimologi bahasa arab, minimal ada dua istilah yang menunjuk kepada arti bapak, pertama: ”abun”, dan kedua; ”walidun”. Dua-duanya sama-sama diartikan sebagai ”bapak”. Hanya saja, kata ”abun” memiliki arti yang luas, boleh jadi berarti bapak kandung yang melahirkan, atau bapak tiri, dan atau bapak angkat. Berbeda dengan etimologi kata ”walid”. Kata ini secara spesifik menunjuk kepada arti ”bapak kandung yang melahirkan”. Dalam pengertian inilah, maka Tuhan disebut sebagai ”tidak memiliki bapak kandung” (lam yalid walam yulad).
Semua orang (jika membaca Alquran) pasti tahu, bahwa Azar adalah pembuat patung yang kemudian dijadikan sesembahan orang-orang musyrik. Kalaulah Azar si pembuat patung ini dianggap sebagai orang tua Nabi Ibrahim, sementara Ibrahim sendiri justeru mengajarkan ketauhidan, sungguh ironis bukan?
Untuk membantah anggapan tersebut, sejarah telah membuktikan, bahwa genealogi para nabi adalah orang-orang yang berasal dari keturunan yang bertauhid (hanif). Dalam tafsir al-Mizan, al-Thabathaba’i (VII:173) menyebutkan orang tua Nabi Ibrahim yang sebenarnya, yaitu: Ibrahim bin Tarikh bin Nahur bin Saruj bin Ra’wa bin Falij bin ’Abir bin Syalih bin Arfaksyadz bin Sam bin Nuh (Nabi Nuh As). Shadaqallahul ’azhiem
Semua orang (jika membaca Alquran) pasti tahu, bahwa Azar adalah pembuat patung yang kemudian dijadikan sesembahan orang-orang musyrik. Kalaulah Azar si pembuat patung ini dianggap sebagai orang tua Nabi Ibrahim, sementara Ibrahim sendiri justeru mengajarkan ketauhidan, sungguh ironis bukan?
Untuk membantah anggapan tersebut, sejarah telah membuktikan, bahwa genealogi para nabi adalah orang-orang yang berasal dari keturunan yang bertauhid (hanif). Dalam tafsir al-Mizan, al-Thabathaba’i (VII:173) menyebutkan orang tua Nabi Ibrahim yang sebenarnya, yaitu: Ibrahim bin Tarikh bin Nahur bin Saruj bin Ra’wa bin Falij bin ’Abir bin Syalih bin Arfaksyadz bin Sam bin Nuh (Nabi Nuh As). Shadaqallahul ’azhiem
Menggagas Peran Qalbu sebagai Pusat Kecerdasan
Dari Promosi Doktor Bidang Tafsir:
Memaknai kecerdasan sebagai fungsi otak, sebagaimana yang dikembangkan dalam psikobiologi, mengandung implikasi reduksionis. Reduksionisme ini dapat dipersalahkan karena telah menyederhanakan kecerdasan hanya sebagai aktifitas fisik yang terlokalisir (localizations of function), yaitu "satu otak tiga pikiran" dengan tipe Kecerdasan Intelektual (IQ), Emosional (EQ) dan Spiritual (SQ). Dalam pandangan terbaru dari mazhab ini, agama malah dipandang tidak memiliki keterhubungan sama sekali dengan kecerdasan, meski kecerdasan itu bersifat spiritual. Sehingga, orang yang beragama boleh jadi tetap bodoh secara spiritual, dan orang yang ateis malah bisa jadi cerdas secara spiritual.Gagasan Alquran justeru memberikan perspsektif yang sama sekali berbeda. Apa yang disebut qalbu, satu sisi bisa diartikan sebagai otak karena fungsinya untuk berpikir, tetapi pada sisi lain signifikansi sebuah keberagamaan (religiusitas) tidak ditentukan oleh semata-mata peran otak, tapi melibatkan keseluruhan jati diri manusia, itulah qalb. Dan, Wahyu sebagai dasar bangunan Islam justeru menjadikan qalbu tempat berpijak.