Topik Utama Hari Ini
Memaknai "Tulang Rusuk Yang Bengkok"

Refleksi Simbolik Asal Penciptaan Wanita
Wanita memang diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam sebelah kiri yang bengkok, sebagaimana yang disabdakan Nabi SAW (HR. Bukhari-Muslim)., tetapi tulang rusuk yang dimaksud bukanlah dalam pengertian tekstualnya, namun lebih dalam pengertian kontekstaul dan simboliknya. Secara anatomis, tulang rusuk tidak ada yang bengkok, dan kalaupun disebut berada di sebelah kiri, lalu "diambil" untuk dijadikan bahan dasar penciptaan wanita, maka Nabi Adam berarti telah mewariskan genetika yang telah kehilangan salah satu tulang rusuknya. Tetapi nyatanya, Nabi Adam dan manusia keturunannya tidak pernah tercatat sedikitpun mengalami kekurangan tulang rusuk sejak ia pertama kali dilahirkan. Lebih dari itu, memaknai penciptaan wanita sebagai benar "berasal dari tulang rusuk Nabi Adam" mengandung arti bahwa wanita adalah "belahan" Nabi Adam, dan ini mempertegas bahwa wanita hanya merupakan subordinasi laki-laki.
Implikasinya, maka keberadaan wanita hanyalah menjadi pelengkap (untuk tidak mengatakan "pelengkap penderita") laki-laki. Hadis Nabi SAW yang sangat populer di atas senada dengan isi Kitab Perjanjian Lama pada Kejadian 2:22: "Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu, dan: 2:23 "Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." Pemaknaan hadis secara tekstual justru membangkitkan sentimen keperempuanan, karena mereka dianggap sebagai makhluk murahan dan rendahan, sehingga muncullah di sana-sini gerakan kebangkitan kaum wanita, salah satunya adalah gerakan feminisme dan emansipasi.
Tanpa bermaksud memihak kepada kaum wanita, pemaknaan tekstual terhadap "Tulang Rusuk yang Bengkok" memang patut ditinjau ulang. Adalah Ibnu 'Arabi, ahli sufi yang lahir pada 17 Ramadhan 560 H/29 Juli 1165 M ini pernah menawarkan pemaknaan simbolik atas tulang rusuk yang bengkok tersebut. Menurutnya, ada dua hal penting yang tersirat dari makna "bengkok", yaitu pertama: munculnya keharusan dan kewajiban seorang pria untuk memperlakukan seorang wanita dengan cara yang lemah-lembut, laksana memperlakukan benda bengkok, yang jika ingin diluruskan haruslah dengan hati-hati, dan jangan dengan cara paksaan atau kekerasan. Kedua: kata "bengkok" berarti mensiratkan adanya kecenderungan, bahwa pria dan wanita sama-sama memiliki kecenderungan, wanita cenderung kepada pria dan pria cenderung kepada wanita. Kecenderung pria kepada wanita adalah karena wanita merupakan pasangan dan belahan dirinya, sedangkan kecenderungan wanita kepada pria adalah karena pria merupakan "kampung halaman" bagi wanita. Lantaran belahan jiwa dan kampung halaman, pria dan wanita bisa memadu cinta dan asmara. Inilah siratan simbolik sebuah "tulang rusuk yang bengkok". Wallau A'lam.
Wanita memang diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam sebelah kiri yang bengkok, sebagaimana yang disabdakan Nabi SAW (HR. Bukhari-Muslim)., tetapi tulang rusuk yang dimaksud bukanlah dalam pengertian tekstualnya, namun lebih dalam pengertian kontekstaul dan simboliknya. Secara anatomis, tulang rusuk tidak ada yang bengkok, dan kalaupun disebut berada di sebelah kiri, lalu "diambil" untuk dijadikan bahan dasar penciptaan wanita, maka Nabi Adam berarti telah mewariskan genetika yang telah kehilangan salah satu tulang rusuknya. Tetapi nyatanya, Nabi Adam dan manusia keturunannya tidak pernah tercatat sedikitpun mengalami kekurangan tulang rusuk sejak ia pertama kali dilahirkan. Lebih dari itu, memaknai penciptaan wanita sebagai benar "berasal dari tulang rusuk Nabi Adam" mengandung arti bahwa wanita adalah "belahan" Nabi Adam, dan ini mempertegas bahwa wanita hanya merupakan subordinasi laki-laki.
Implikasinya, maka keberadaan wanita hanyalah menjadi pelengkap (untuk tidak mengatakan "pelengkap penderita") laki-laki. Hadis Nabi SAW yang sangat populer di atas senada dengan isi Kitab Perjanjian Lama pada Kejadian 2:22: "Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu, dan: 2:23 "Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." Pemaknaan hadis secara tekstual justru membangkitkan sentimen keperempuanan, karena mereka dianggap sebagai makhluk murahan dan rendahan, sehingga muncullah di sana-sini gerakan kebangkitan kaum wanita, salah satunya adalah gerakan feminisme dan emansipasi.
Tanpa bermaksud memihak kepada kaum wanita, pemaknaan tekstual terhadap "Tulang Rusuk yang Bengkok" memang patut ditinjau ulang. Adalah Ibnu 'Arabi, ahli sufi yang lahir pada 17 Ramadhan 560 H/29 Juli 1165 M ini pernah menawarkan pemaknaan simbolik atas tulang rusuk yang bengkok tersebut. Menurutnya, ada dua hal penting yang tersirat dari makna "bengkok", yaitu pertama: munculnya keharusan dan kewajiban seorang pria untuk memperlakukan seorang wanita dengan cara yang lemah-lembut, laksana memperlakukan benda bengkok, yang jika ingin diluruskan haruslah dengan hati-hati, dan jangan dengan cara paksaan atau kekerasan. Kedua: kata "bengkok" berarti mensiratkan adanya kecenderungan, bahwa pria dan wanita sama-sama memiliki kecenderungan, wanita cenderung kepada pria dan pria cenderung kepada wanita. Kecenderung pria kepada wanita adalah karena wanita merupakan pasangan dan belahan dirinya, sedangkan kecenderungan wanita kepada pria adalah karena pria merupakan "kampung halaman" bagi wanita. Lantaran belahan jiwa dan kampung halaman, pria dan wanita bisa memadu cinta dan asmara. Inilah siratan simbolik sebuah "tulang rusuk yang bengkok". Wallau A'lam.
Adam Bukanlah Manusia Pertama
Memposisikan kata "basyar" dan "insan"
Adam dipastikan sebagai Nabi Pertama dalam sejarah kenabian, tetapi ia bukan manusia pertama dalam sejarah kemanusiaan. Kenyataan ini dapat dilihat dalam indikasi Alquran ketika kata "basyar" dan "insan" yang secara bahasa sama-sama diartikan "manusia", tetapi penggunaan antara keduanya memiliki arti yang berbeda. Kata "basyar" lebih merujuk kepada arti manusia secara umum, manusia bilologis, tetapi kata "insan" lebih merujuk kepada arti manusia secara khusus, yaitu manusia berbudaya dan berperadaban. Sehingga, setiap "insan" adalah "basyar", tetapi tidak setiap "basyar" itu "insan. "Basyar" memiliki bentuk yang statis (jamidah), sementara "insan" adalah kata yang dinamis (mutasharrifah).
Dalam Alquran, kata "insan" tidak digunakan kecuali pada manusia yang mendapatkan tanggungjawab tauhid dan ibadah, dalam hal ini dimulai dengan keberadaan Adam. Beban agama yang diberikan kepada Adam sebagai Nabi adalah karena sifat ke-insaniah-annya, bukan ke-basyariah-annya. Maka, kemunculan Adam adalah simbol kemunculan pertama bagi "insan", dan tidak berkaitan dengan "basyar". Dalam konteks ini, Adam merupakan bapaknya manusia, "abu al-insan", bukan "abu al-basyar", dan tidak ada hubungan antara Adam dan basyar yang muncul terlebih dahulu. Wallahu a'lam.
Ternyata Tuhan "Cemburu"
Tidak hanya manusia yang bisa cemburu, tetapi Tuhan juga bisa cemburu. Kalaulah manusia cemburu karena tidak mau diduakan, maka Tuhan lebih-lebih lagi bahwa Ia pun tidak ”ridha” untuk diduakan. Hati siapa yang terima kalau sang istri diduakan oleh sang suami, dan suami mana yang mau terima kalau sang istri membagi kasih? Tuhan adalah pencemburu berat. Bagi Tuhan, keberadaanNya adalah satu-satuNya (the one and only), tidak ada orang lain yang mendampinginNya apalagi dijadikan sebagai saingan (rival) Nya (QS. Al-Ikhlas:1). Tuhanlah satu-satunya subyek yang disembah dan Tuhanlah satu-satunya subyek yang dimintai pertolongan (QS. Alfatihah:5). Dimata Tuhan, manusia yang berupaya menduakanNya akan membuat kemarahan besar Tuhan. Dosa besar bagi manusia yang menduakanNya, dan Tuhan berjanji tidak akan pernah mengampuni kesalahannya (QS. An-Nisa:48,116).Cemburu berarti ”refleksi dari kemurnian cinta”. Kalaulah ada orang yang cemburu, itu berarti bahwa ia teramat cinta kepadanya. Oleh karena itu, puncak dari upaya untuk memurnikan kesatu-satuan (keesaan) Tuhan adalah cinta. ”Cinta Tuhan”, demikianlah istilah Rabi’ah Al-Adawiyah menyebutnya. Sufi wanita pertama yang muncul abad ke 2 H ini pernah memberikan resep cintanya dengan mengatakan: ”aku mencintai Tuhan dengan dua bentuk cinta, yang satu karena cinta nafsu, dan kedua cinta karena Tuhan memang patut dicinta”. Ekspresi cintanya kepada Tuhan terukir lewat dendang bait syairnya: ”Kalaulah aku mengabdi kepadaMu, bukanlah karena aku takut nerakaMu, dan bukan pula karena menginginkan sorgaMu, karena itu hanya membuatku seorang pelancong. Tapi kusembah Dikau karena kemurnian cinta dan rinduku padaMu”. Wallahu a’lam.
“ILA NAFSI……” BUKAN “ILA RUHI ….”
Dalam penggunaan Alquran, kata ruh tidak pernah berkaitan dengan kata maut atau wafat yang berarti ”kematian” atau ”kesempurnaan”. Tetapi yang dikaitkan dengan kematian adalah kata nafs (seperti kalimat kullu nafs dzaiqatul maut). Ungkapan ini menunjukkan, bahwa yang mati itu adalah nafs dan bukan ruh. Klik "komentar" untuk memberi tanggapan atau "read more" untuk melihat selengkpnyaBagi manusia, ruh dan nafs merupakan dua istilah yang berdekatan namun memiliki kandungan makna yang berbeda. Ruh tidak pernah mati karena ia bersumber langsung dari Tuhan (wanafakaha min ruhi). Ia ibarat cahaya yang bersumber dari Matahari. Maka, sepanjang matahari itu ada, sepanjang itu pula cahaya itu tetap ada.
Kalaulah cahaya itu tidak ada, bukan berarti bahwa mataharinya yang tidak ada, tetapi cahaya yang tidak menembus kedalaman penglihatan manusia karena penghalang. Dalam keadaan ini, maka nafs berfungsi menangkap keberadaan cahaya. Bagi manusia pula, nafs merupakan unsur berkesadaran. Orang yang kehilangan nafs berarti kehilangan kesadaran, dan ketika itu manusia dapat dikatakan telah mengalami kematian. Jadi, mati sesungguhnya adalah hilangnya nafs. Dalam konteks ini, maka tradisi mengirim bacaan sebagai doa bagi orang yang telah meninggal dunia bukan diungkap dengan persembahan kata: ”ila ruhi fulan bin bulan” dan ”ruhi fulan bin bulan”, tetapi ”ila nafsi fulan bin fulan”. Wallahu a’lam